Insiden wahana bianglala terbalik di sekaten yang viral melalui jagad maya kembali menyadarkan nilai-nilai berharga yang terdapat di acara tahunan kota Yogyakarta. Selain mengingatkan betapa pentingnya penataan wahana yang nyaman bagi pengunjung, namun juga harus mempertimbangkan aspek-aspek lain yang ada dalam perayaan sekaten. Bahwa sekaten tidak hanya sekedar perayaan, namun didalamnya terkandung makna historis yang tidak kalah pentingnya. Sekaten berasal dari kata syahadatain, 2 kalimat suci ummat Islam. Juga memiliki perluasan asal kata sekat yang berarti batas. Syahadatain sebagai kalimat suci umat Islam merupakan simbol pintu masuk untuk seseorang yang hendak menjadi Islam.Syahadatain, ialah esensi sekaten yang sesungguhnya. Nilai syahadatain inilah yang kemudian melatarbelakangi Kasultanan Demak mengadakan sekaten sebagai salah satu upaya untuk si'ar Islam.
Sekaten adalah media paling efektif saat itu, mengingat tradisi arak-arakan
sebagai bagaian dari budaya masyarakat yang turun-temurun sejak jaman
kerajaan Majapahit. Dengan tidak meninggalkan nilai tradisi yang sudah ada,
arak-arakan sekaten dan gamelan digunakan untuk memperingati hari lahir
Nabi Muhammad SAW. Inilah gaya dakwah Wali Songo, esensi keagamaan
dibalut dengan sensasi perayaan. Sekat, atau yang berarti batas,
memiliki makna bahwa manusia harus selalu ingat akan batasan dalam
kehidupannya. Membatasi diri untuk tidak berbuat jahat dan maksiat. Sekat, adalah simbol dari penerapan nilai-nilai Islam yang
berfungsi untuk membatasi ruang gerak angkara murka dalam diri manusia. Sekat, bermakna sebagai pengingat, batas antara kebaikan dengan
kejahatan. Lebih dalam, sekat adalah perwujudan dari makna QS:
al-Baqarah ayat 42. Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan
kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.
Syahadatain
dan sekat, dua kata ini agaknya susah untuk ditemukan pada
perayaan sekaten dalam waktu belakangan ini. Hingar bingar pasar malam
sekaten jauh lebih layak jual jika dibandingkan dengan alunan gamelan Kyai
Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Pasar malam perayaan sekaten jauh lebih
diminati jika dibandingkan dengan khutbah Islam di Masjid Agung. Guna
mengembalikan sekaten kepada fungsi utamanya sebagai media dakwah Islam,
perlu adanya penataan pasar malam sekaten yang lebih ciamik daripada yang
sudah-sudah. Jika menggunakan gaya dakwah Wali Songo, sensasi perayaan
tetap harus mempertimbangkan esensi keagamaan. Perayaan tidak lantas
ditinggalkan, ia harus ada sebagai bagian penting untuk menarik minat
masyarakat agar datang dan berkumpul untuk mengenal serta memperdalam ilmu
agama.
Sekaten di masa yang sekarang, memang bukan lagi miliki satu agama
tertentu. Namun mengembalikan esensi keagamaan sekaten di masa yang
sekarang ini menjadi satu kebutuhan yang harus dilakukan. Sebab mustahil
berbicara kemajuan tanpa dibarengi dengan nilai-nilai yang mapan. Inilah,
fungsi sekaten sebagai media dakwah. Sebagai pengingat, batas antara
kebaikan dengan kejahatan. Sekat.

Comments
Post a Comment